Tuesday, July 11, 2006

Ayam dari Makkah

Ada sebuah rumah di jalan Tapakis Padang. Ada seorang Ayah ketek. Ada seorang emak apuak. Dan ada seorang paja ketek. Nama paja tu Hanif. Ow ya penghuni yang lain juga ada, yaitu mahasiswi kos-kosan dari Unand.

Sebetulnya tak ada yang istimewa di rumah itu. Kecuali si Hanif itu punya hoby unik dan sangat spesifik. Segala macam jenis ayam dipeliharanya. Mulai dari ayam berbulu keriting, kusuik seperti rambut mak haji sampai ayam kate yang ukuran bodinya sebesar bola pingpong. Untuk ayam ketek ini emak Hanif punya tugas ekstra. Kerena badan ayam itu ketek tentu ciriknya ketek juga, yaitu sebesar biji zarah.

Tapi ayam sialan ini beraknya setiap mencicit, jadi kalau satu kali mencicit keluar satu butir tahi dari ekornya, kalau dua kali mencicit, maka eek yang keluar juga dua butir. Tapi ada juga ayam-ayam mini ini mantan juara Indonesia Idol, yang bersuara serak-serak basah seperti Bryan Adam, nah ayam yang beginian buang hajatnya selalu diiringi kentut seperti letusan mitraliur.

Pepatah Minang bilang: "Sedikit demi sedikit, lama-lama cirit ayam si hanif itu menjadi bukit". Dan stock pile cirik ayam itu tidak hanya disatu tempat, dimana-mana benda keramat ini selalu ada, istilah Coca Cola tepat untuk menggambarkannya: Kapan saja, dimana saja selalu ada cirik ayam si Hanif. Di lantai teras, di ruang tamu, di dapur, di atas meja, dan kadang-kadang juga ditemukan didalam sepatu.

Rumah yang semula harum semerbak, gara-gara ayam ketek itu berubah baun cik ayam. Ayam si Hanif yang adalah ayam Makkah. Sebagaimana umumnya orang pulang haji,
ayam ini cukup sholeh. Kalau mau makan dia selalu nyebut Bismillah, kalau sandao dia sebut Alhamdulillah. Dan kalau dikejutkan "Hush...Hush" dia akan terperanjat seraya nyebut "Astagfirullah". Ayam ini sangat eksklusif. Dia kagak mau bergaul dengan ayam-ayam kafir. Terutama ayam kate yang pancirik itu.

Wednesday, October 12, 2005

Balada PNS

Seandainya hidup ini bisa bak kato ati awak, maka saya berniat untuk memilih hidup kembali ke zaman Bundo Kanduang atau ke zaman Gubernur Harun Zein. Di kedua zaman itu, hidup sebagai PNS enak tenan! Segala-macam fasilitas yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja PNS dipenuhi. Tidak seperti kehidupan PNS di zaman reformasi seperti sekarang, "Oto dinas dimintak, sumpah dapek!".

Tuesday, April 26, 2005

Insiden Baralek

Pada suatu pagi dihari Minggu, angin berhembus sepoi-sepoi. Dan panitia baralek "Nil-Oji" berkemas-kemas menjemput marapulai. Segala kelengkapan untuk menjemput marapulai telah dipersiapkan dengan matang.
Calano? Oke.
Pakaian+Sepatu+Sarung? Oke.
Pasumandan? Juga Oke.

Para Om-Om yang akan mengapit pasumandan pun sudah harum semerbak dilumari parfum. Yang belum oke adalah bu Elly. Bu Elly masih sibuk menyuapi bocah cilik, sing jenenge "Fanit Akmal", yang kagak mau duduk tenang. Kalau di Afrika sana, anak-anak mencari nasi, maka bocah cilik iki sebaliknya, nasi yang cari anak yang sedang main-main stir Rolls Royce milik menteri Hartato yang dipinjam untuk menjemput marapulai. Setelah si Fanit kekenyangan, barulah bu Elly pai babadak-badak ke dalam rumah. Si Fanit dibiarkan di mobil.

Dan persoalan besar datang menghampiri pagi nan cerah itu. Entah apa yang dikakok, rupanya sipanit maresek cingkunek kunci oto. Paja ketek gapuak tu takuruang dalam oto. Si Fanit panik dan yang akan menjemput marapulai lebih panik lagi. Kunci oto terkurung bersama Fanit. Bermacam teori telah dilakukan untuk membuka pintu sedan mewah itu. congkel sana congkel sini, namun sang oto tak kunjung terbuka. Om-om dan tante-tante yang memakai jas sudah bercucuran keringat, kombinasi peluh antara keringat dingin dan hawa panas yang menggigit. Ketegangan semakin menjadi kerena si Panit menjerit-jerit minta keluar.

Syukur Alhamdulilah, paja lasak tu sambil bercucuran air mata menggapai kesana dan menggapai kesini, dan kebetulan tergapai tombol pembuka pintu mobil itu. Insiden yang menegangkan itu hanya berlangsung lima belas menit. Tapi rasanya seperti seratus tahun.

Wednesday, April 06, 2005

Profil Pendamping Aktifis

Ada bunga di Amping Parak. Dianya berkulit putih, sedikit gemuk, rambut ikal yang dijalin dua ke arah depan, berhidung mancung dan punya Mami yang judes serta Papi yang sangat menyayanginya. Mungkin karena sadar bahwa dia berkulit terang, maka busana yang dikenakannya seringkali berwarna terang, seperti kuning, biru dan merah; dan pakaian yang sangat disukainya adalah baju merah kacut di pinggang.

Kecil-kecil dia sudah jadi manten, dan tidak beberapa saat pernikahannya bubar. Sampai suatu saat bertemu dengan seorang duda yang berprofesi guru. Si duda ini, selain menjalankan tugas rutin juga punya kerja sampingan, yakni pacaran dengan bunga Amping Parak itu, serta aktifis menentang kolonial Belanda. Mereka kemudian menikah, dengan dialektika dan dinamika kehidupan yang turun naik. Dia membesarkan anak-anaknya sambil mengurus sang aktifis yang hobinya keluar masuk penjara.

Sekarang dia telah wafat, namun dari rahimnya lahir doktor, hakim agung, insinyur, ahli ekonomi, ahli kimia, serta cucu dan cicit yang pintar-pintar. Perempuan di desa kecil pesisir selatan itu, bernama... Amai!

Wednesday, March 30, 2005

Kenapa orang Eropa itu suka soen kiri-kanan

Konon kabarnya, kueh "Berliner" sebangsa onde-onde ala jerman, banyak sekali penggemarnya. Pada suatu hari, kueh tersebut hilang di pasaran. Masyarakat Jerman panik seperti krisis BBM di sini, desas-desus mengatakan ada beberapa warga jerman mendapat subsidi "Berliner" dari Bismarck. Maka untuk mendeteksi apakah manusia yang di muka kita ini yang mendapat subsidi tersebut, maka setiap kali jumpa harus soen kiri-kanan. Jadi fungsi soen itu multi-makna. Pertama, untuk ngecek apakah dia habis makan Berliner atau kagak. Kedua, bila iya kita juga ikut merasakan harumnya Berliner Dan ketiga, bila yang bersangkutan tidak pernah mencicipi Berliner, maka tinggal gigit saja pipi orang itu, kerena selain lezat Berliner itu juga empuk seperti pipi orang.

Harap Sabar...

Para Pembacawan dan Pembacawati yang mulia,

Manpred lagi dibanjiri order nulis. Pertama boss di kantor minta tolong edit surat-surat keluar agar tatabahasanya hidup. Kedua redaksi surat kabar lokal mendesak untuk terus menulis kerena banyal surat pembaca mendesak untuk terus mendongeng di koran. Dan yang ketiga, keluarga besar Samik-Ibrahim hampir sama animonya dengan yang kedua. Jadi harap sabar yah, semuanya bakalan mendapat tempat, dan mungkin penekanannya pada hari ulang tahun ybs. Untuk itu Manpred butuh sekelumit yang unik dari yang akan saya
ceritakan itu.

Friday, March 25, 2005

Lady Farah

Barangkali diantara anak dan cucu serta cicit Samik-Ibrahim yang ketahuan belangnya bahwa dia menyukai musik maka predikat itu pantas disandang Lady Farah Laela Bahraini. Anak gadis kedua pasangan dari Bahrul Padeksky dan Siti "Tolek" Hajir Samik ini masih bayi sudah menggerak-gerakkan jemarinya seperti orang bermain piano. Tak lama kemudian setelah dia pandai mangecek, bayi ajaib ini tidak cengeng seperti bocah kebanyakan, tapi dengan ceria dia menyenandungkan lagu-lagu pop tentang "cinta". Sehingga kakaknya Popy von Padeksky berulangkali mengadu pada mamanya: "Ma...ma, baa lo silediko, inyo balagu cinta ma!". Si tolek puteri bungsu tokoh Muhammadiyah itu, segera mendatangi bocah bermata sipit ini, sambil berkacak pinggang tolek langsung mengeluarkan petuah tentang dosa dan api neraka bila paja ketek bicara soal cinta. Bocah imut-imut itu terdiam sebentar, setelah si Tolek pergi, muncul lagi lagu yang kena cekal tadi dengan nada suara yang lebih nyaring lagi cintaaaaa..!. Seisi penghuni rumah di Palinggam tertawa melihatnya, Amai nenek judes yang hobinya marah-marah itu tersenyum, dia bangga dengan cucu mungilnya yang selalu tampil beda.

Sikap seperti itu juga nampak sekarang ini, dia selalu mendapat rangking disekolah maupun diluar sekolah. Nilai rapornya ruarr biasa, dan kepiawaian bermain organ dan piano menyebabkan pimpinan kursus musik meminta jasanya jadi guru piano. tidak itu saja, grup musik yang pemainnya rata berambut gondrong dan berbaju katebe sehingga nampak bulu ketiaknya yang bau itu, juga senang meminta jasa si ledi ini untuk memegang organ waktu mereka manggung. saya sebagai om senang dari cewek manis ini melihat dari jauh saja. Sebab kalau saya terus menerus mendampingi dia pasti lari terbirit-birit anak-anak muda temannya itu melihat si sunguik mamaknyo nan beruban ini. Kini, gadis manis itu telah jadi sarjana. Rasanya terobat rasa lelah rajo lenggang dan ul membesarkan dan menyekolahkannya. Dan bilamana rajolenggang dan Samik-ibrahim tua masih hidup, kisah klasik akan berulang lagi, pengeras suara surau papan akan menyorakkan berita gembira ini " halo...halo...urang kampuang palinggam, cucu den anak si barul ala jadi sarjana!

Walaupun dialam nyata ini tidak nampak, agaknya padek suami istri, samik ibrahim suami istri dan papamu bahrul padek sh sangat gembira disorga sana. Selamat untuk kemenakanku Lady Farah Laela Bahraini, dari keluarga mini Linggarjati.

Ibu H.K.

Waktu itu salju turun bertaburan dari langit kota Cologne. Hedwig Clara perawat gigi dokter Manfred bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Alat-alat gigi sudah disterilkan, segala cawan porselen ludah telah dibasuh bersih-bersih. Tiba-tiba muncul seorang Auslander agaknya dari Asia Tenggara, dengan bahasa Jerman belepotan mengatakan giginya sakit. Kerena pelajaran di sekolah perawat gigi mengatakan bahwa menolong orang yang sakit itu pahalanya berlimpahruah, maka dengan sukacita Hedwig Clara, menyuruh pemuda asia itu duduk di kursi pemeriksaan gigi. Prosedur tetap menetapkan sebelum dokter memeriksa, terlebih dahulu si perawat yang mengotak atik mulut pasiennya.

Dan Hedwig pun menyuruh si pasien menyebut "aaaa", anak muda mantan tukang pukek dari Amping Parak itu menyebut "aaaaaaa". Berkali-kali Hedwig memain-mainkan sendok cerminnya mencari kalau-kalau ada gigi yang bolong, tapi astaga, gigi auslander ini bagusnya tidak terkira, kalau pun ada flak-flak itu cuman remah-remah sisa "Berliner" yang menyelip disela-sela giginya.
"Anda tidak sakit apa-apa Tuan!"
"Tapi gigi saya sakit loh, Fraulein"
"Nggak!"
"Yaa!"
"Nggak!"
"Yaa!"
Pertengkaran perawat gigi dengan Auslander itu tak habis-habisnya, kalau tidak dilerai dokter Manfred. Dokter Manfred akhirnya memutuskan keduanya harus jadi suami-istri. Maka nikahlah mereka, dan sekarang sudah beranak pinak. Hedwig Clara itu tanggal 4 Maret ulang tahun. Dan kami dari Linggarjati mengucapkan Herzlichen Geburstag Uni Astrid!

Sebutir cirit di baju Habibi

Habibi yang ini bukan sembarang habibi! Bukan Habibi orang Arab penjual material di pasar Anyar. Bukan juga Habibi tukang parkir jembatan merah. Yang pasti Habibi cerita ini, mantan preseden Republek Endonesia.

Pada suatu hari di bulan Oktober, Habibi urlaub, dia kagak kuliah. Di pagi buta nan bertaburan salju, dari Hauptbahnhof Hanover dia naik kereta ke Stadwaldgurtel di Cologne. Habibi bermaksud untuk mendaftar jadi anggota "Liga Mahasiswa Muslem Eropa", yang ketuanya bermukim di sebuah keler di jalan Stadwaldgurtel tea.

Setelah menempuh perjalanan panjang, sampailah Habibi ke keler si Ahmad. Bukan main gembiranya Habibi waktu itu. Untuk mengambil hati Ahmad cucu ayek kecoh itu, Habibi langsung ke pipi Hedwige Clara, dia disoen kiri-kanan, pipi pak Egon juga disoen kiri-kanan, terakhir pipi mantan tukang pukek Amping Parak itu disoen kiri-kanan. Setelah itu matanya jelalatan ke puteri gemuk pasangan Ahmad Hedwige Clara langsung
dipangku dan dipeluk mesra, sambil menyenandungkan lagu anak-anak Gorontalo.

Eulalya bocah montok itu terkagum-kagum melihat lelaki ketek dan bondek ini. Dia hampir tak mau turun dari pangkuan manusia kerdil itu, walau pun disaat itu dia
lagi kebelet eek. Yah kerena kerasan dipangkuan Habibi maka bocah berbadan bongsor ini buang hajat langsung dibaju Habibi. Jas yang dikenakan Habibi adalah satu-satunya barang mewah yang dimilikinya. Maklumlah dia kan mahasiwa ikatan dinas, dan tinja si Eulalya ini tidak berbentuk cair seperti kuah sate padang, dan juga tidak berbentuk bulat seperti goreng pisang. Tapi tinja si Eulalya ini bulat-bulat seperti cirit kambing.

Salah satu dari butiran itu nempel di-jas mewah Habibi. Habibi masih mengumbar senyum sewaktu Ahmad memotret Habibi-Eulalya, walau dilengan jas nya ada sebutir cirit. Sekarang bocah nakal itu sudah buesssar, dia telah jadi istri seorang dokter hewan dan ibu dua orang cowok keren. Dan dia satu-satunya cucu Samik Ibrahim yang dipangku seorang mahasiswa indonesia, yang kelak menjadi presiden RI ke 3. Nama bocah itu, Rahmah Hayati Samik-Ibrahim.