Ayam dari Makkah
Ada sebuah rumah di jalan Tapakis Padang. Ada seorang Ayah ketek. Ada seorang emak apuak. Dan ada seorang paja ketek. Nama paja tu Hanif. Ow ya penghuni yang lain juga ada, yaitu mahasiswi kos-kosan dari Unand.
Sebetulnya tak ada yang istimewa di rumah itu. Kecuali si Hanif itu punya hoby unik dan sangat spesifik. Segala macam jenis ayam dipeliharanya. Mulai dari ayam berbulu keriting, kusuik seperti rambut mak haji sampai ayam kate yang ukuran bodinya sebesar bola pingpong. Untuk ayam ketek ini emak Hanif punya tugas ekstra. Kerena badan ayam itu ketek tentu ciriknya ketek juga, yaitu sebesar biji zarah.
Tapi ayam sialan ini beraknya setiap mencicit, jadi kalau satu kali mencicit keluar satu butir tahi dari ekornya, kalau dua kali mencicit, maka eek yang keluar juga dua butir. Tapi ada juga ayam-ayam mini ini mantan juara Indonesia Idol, yang bersuara serak-serak basah seperti Bryan Adam, nah ayam yang beginian buang hajatnya selalu diiringi kentut seperti letusan mitraliur.
Pepatah Minang bilang: "Sedikit demi sedikit, lama-lama cirit ayam si hanif itu menjadi bukit". Dan stock pile cirik ayam itu tidak hanya disatu tempat, dimana-mana benda keramat ini selalu ada, istilah Coca Cola tepat untuk menggambarkannya: Kapan saja, dimana saja selalu ada cirik ayam si Hanif. Di lantai teras, di ruang tamu, di dapur, di atas meja, dan kadang-kadang juga ditemukan didalam sepatu.
Rumah yang semula harum semerbak, gara-gara ayam ketek itu berubah baun cik ayam. Ayam si Hanif yang adalah ayam Makkah. Sebagaimana umumnya orang pulang haji,
ayam ini cukup sholeh. Kalau mau makan dia selalu nyebut Bismillah, kalau sandao dia sebut Alhamdulillah. Dan kalau dikejutkan "Hush...Hush" dia akan terperanjat seraya nyebut "Astagfirullah". Ayam ini sangat eksklusif. Dia kagak mau bergaul dengan ayam-ayam kafir. Terutama ayam kate yang pancirik itu.
Sebetulnya tak ada yang istimewa di rumah itu. Kecuali si Hanif itu punya hoby unik dan sangat spesifik. Segala macam jenis ayam dipeliharanya. Mulai dari ayam berbulu keriting, kusuik seperti rambut mak haji sampai ayam kate yang ukuran bodinya sebesar bola pingpong. Untuk ayam ketek ini emak Hanif punya tugas ekstra. Kerena badan ayam itu ketek tentu ciriknya ketek juga, yaitu sebesar biji zarah.
Tapi ayam sialan ini beraknya setiap mencicit, jadi kalau satu kali mencicit keluar satu butir tahi dari ekornya, kalau dua kali mencicit, maka eek yang keluar juga dua butir. Tapi ada juga ayam-ayam mini ini mantan juara Indonesia Idol, yang bersuara serak-serak basah seperti Bryan Adam, nah ayam yang beginian buang hajatnya selalu diiringi kentut seperti letusan mitraliur.
Pepatah Minang bilang: "Sedikit demi sedikit, lama-lama cirit ayam si hanif itu menjadi bukit". Dan stock pile cirik ayam itu tidak hanya disatu tempat, dimana-mana benda keramat ini selalu ada, istilah Coca Cola tepat untuk menggambarkannya: Kapan saja, dimana saja selalu ada cirik ayam si Hanif. Di lantai teras, di ruang tamu, di dapur, di atas meja, dan kadang-kadang juga ditemukan didalam sepatu.
Rumah yang semula harum semerbak, gara-gara ayam ketek itu berubah baun cik ayam. Ayam si Hanif yang adalah ayam Makkah. Sebagaimana umumnya orang pulang haji,
ayam ini cukup sholeh. Kalau mau makan dia selalu nyebut Bismillah, kalau sandao dia sebut Alhamdulillah. Dan kalau dikejutkan "Hush...Hush" dia akan terperanjat seraya nyebut "Astagfirullah". Ayam ini sangat eksklusif. Dia kagak mau bergaul dengan ayam-ayam kafir. Terutama ayam kate yang pancirik itu.
